Pages

Clicks Please

Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Monday, December 12, 2011

Hikmah Diharamkannya Patung

1) Di antara rahasia diharamkannya patung ini, walaupun dia itu bukan satu-satunya sebab, seperti anggapan sementara orang yaitu untuk membela kemurnian Tauhid, dan supaya jauh dari menyamai orang-orang musyrik yang menyembah berhala-berhala mereka yang dibuatnya oleh tangan-tangan mereka sendiri, kemudian dikuduskan dan mereka berdiri di hadapannya dengan penuh khusyu'.

Kesungguhan Islam untuk melindungi Tauhid dari setiap macam penyerupaan syirik telah mencapai puncaknya. Islam dalam ikhtiarnya ini dan kesungguhannya itu senantiasa berada di jalan yang benar. Sebab sudah pernah terjadi di kalangan umat-umat terdahulu, dimana mereka itu membuat patung orang-orang yang saleh mereka yang telah meninggal dunia kemudian disebut-sebutnya nama mereka itu. Lama-kelamaan dan dengan sedikit demi sedikit orang-orang saleh yang telah dilukiskan dalam bentuk patung itu dikuduskan, sehingga akhirnya dijadikan sebagai Tuhan yang disembah selain Allah; diharapkan, dan ditakuti serta diminta barakahnya. Hal ini pernah terjadi pada kaum Wud, Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr.

Tidak heran kalau dalam suatu agama yang dasar-dasar syariatnya itu selalu menutup pintu kerusakan, bahwa akan ditutup seluruh lubang yang mungkin akan dimasuki oleh syirik yang sudah terang maupun yang masih samar untuk menyusup ke dalam otak dan hati, atau jalan-jalan yang akan dilalui oleh penyerupaan kaum penyembah berhala dan pengikut-pengikut agama yang suka berlebih-lebihan. Lebih-lebih Islam itu sendiri bukan undang-undang manusia yang ditujukan untuk satu generasi atau dua generasi, tetapi suatu undang-undang untuk seluruh umat manusia di seantero dunia ini sampai hari kiamat nanti. Sebab sesuatu yang kini masih belum diterima oleh suatu lingkungan, tetapi kadang-kadang dapat diterima oleh lingkungan lain; dan sesuatu yang kini dianggap ganjil dan mustahil, tetapi di satu saat akan menjadi suatu kenyataan, entah kapan waktunya, dekat atau jauh.

2) Rahsia diharamkannya patung bagi pemahatnya, sebab seorang pelukis yang sedang memahat patung itu akan diliputi perasaan sok, sehingga seolah-olah dia dapat menciptakan suatu makhluk yang tadinya belum ada atau dia dapat membuat jenis baru yang bisa hidup yang terbuat dari tanah.

Sudah sering terjadi seorang pemahat patung dalam waktu yang relatif lama, maka setelah patung itu dapat dirampungkan lantas dia berdiri di hadapan patung tersebut dengan mengaguminya, sehingga seolah-olah dia berbicara dengan patung tersebut dengan penuh kesombongan: Hai patung! Bicaralah!

Untuk itulah maka Rasulullah s.a.w. bersabda:
    "Sesungguhnya orang-orang yang membuat patung-patung ini nanti di hari kiamat akan disiksa dan dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah patung yang kamu buat itu." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dan dalam hadis Qudsi, Allah s.w.t. berfirman pula:
    "Siapakah orang yang lebih menganiaya selain orang yang bekerja untuk membuat sesuatu seperti pembuatanku? Oleh karena itu cobalah mereka membuat zarrah (benda yang kecil), cobalah mereka membuat sebutir beras belanda." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

3) Orang-orang yang berbicara dalam persoalan seni ini tidak berhenti dalam suatu batas tertentu saja, tetapi mereka malah melukis (memahat) wanita-wanita telanjang atau setengah telanjang. Mereka juga melukis (dan juga memahat) lambang-lambang kemusyrikandan syiar-syiar agama lainnya, seperti salib, berhala dan lain-lain yang pada prinsipnya tidak dapat diterima oleh Islam.

4) Lebih dari itu semua, bahwa patung-patung itu selalu menjadi kemegahan orang-orang yang berlebihan, mereka penuhinya istana-istana mereka dengan patung-patung, kamar-kamar mereka dihias dengan patung dan, mereka buatnya seni-seni pahat (patung) dari berbagai lambang.

Kalau agama Islam dengan gigih memberantas seluruh bentuk kemewahan dengan segala kemegahan dan macamnya, yang terdiri dari emas dan perak, maka tidak terlalu jauh kalau agama ini mengharamkan patung-patung itu, sebagai lambang kemegahan, dalam rumah-rumah orang Islam.



Rukhsah Dalam Permainan Anak-Anak

Kalau macam daripada patung itu tidak dimaksudkan untuk diagung-agungkan dan tidak berlebih-lebihan serta tidak ada suatu unsur larangan di atas, maka dalam hal ini Islam tidak akan bersempit dada dan tidak menganggap hal tersebut suatu dosa. Misalnya permainan anak-anak berupa pengantin-pengantinan, kucing-kucingan, dan binatang-binatang lainnya. Patung-patung ini semua hanya sekedar pelukisan untuk permainan dan menghibur anak-anak.

Oleh karena itu kata Aisyah:

"Aku biasa bermain-main dengan anak-anakan perempuan (boneka perempuan) di sisi Rasulullah s.a.w. dan kawan-kawanku datang kepadaku, kemudian mereka menyembunyikan boneka-boneka tersebut karena takut kepada Rasulullah s.a.w., tetapi Rasulullah s.a.w. malah senang dengan kedatangan kawan-kawanku itu, kemudian mereka bermain-main bersama aku." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan dalam salah satu riwayat diterangkan:

"Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pada suatu hari bertanya kepada Aisyah: Apa ini? Jawab Aisyah: Ini anak-anak perempuanku (boneka perempuanku); kemudian Rasulullah bertanya lagi: Apa yang di tengahnya itu? Jawab Aisyah: Kuda. Rasulullah bertanya lagi: Apa yang di atasnya itu? Jawab Aisyah: Itu dua sayapnya. Kata Rasulullah: Apa ada kuda yang bersayap? Jawab Aisyah: Belumkah engkau mendengar, bahwa Sulaiman bin Daud a.s. mempunyai kuda yang mempunyai beberapa sayap? Kemudian Rasulullah tertawa sehingga nampak gigi gerahamnya." (Riwayat Abu Daud)

Yang dimaksud anak-anak perempuan di sini ialah boneka pengantin yang biasa dipakai permainan oleh anak-anak kecil. Sedang Aisyah waktu itu masih sangat muda.

Imam Syaukani mengatakan: hadis ini menunjukkan, bahwa anak-anak kecil boleh bermain-main dengan boneka (patung). Tetapi Imam Malik melarang laki-laki yang akan membelikan boneka untuk anak perempuannya. Dan Qadhi Iyadh berpendapat bahwa anak-anak perempuan bermain-main dengan boneka perempuan itu suatu rukhsah (keringanan).

Termasuk sama dengan permainan anak-anak, yaitu patung-patungan yang terbuat dari kue-kue dan dijual pada hari besar (hari raya) dan sebagainya kemudian tidak lama kue-kue tersebut dimakannya.
Patung yang Tidak Sempurna dan Cacat

Di dalam hadis disebutkan, bahwa Jibril a.s. tidak mau masuk rumah Rasulullah s.a.w. karena di pintu rumahnya ada sebuah patung. Hari berikutnya pun tidak mau masuk, sehingga ia mengatakan kepada Nabi Muhammad:

"Perintahkanlah supaya memotong kepala patung itu. Maka dipotonglah dia sehingga menjadi seperti keadaan pohon." (Riwayat Abu Daud, Nasai, Tarmizi dan Ibnu Hibban)

Dari hadis ini segolongan ulama ada yang berpendapat diharamkannya gambar itu apabila dalam keadaan sempurna, tetapi kalau salah satu anggotanya itu tidak ada yang kiranya tanpa anggota tersebut tidak mungkin dapat hidup, maka membuat patung seperti itu hukumnya mubah,

Tetapi menurut tinjauan yang benar berdasar permintaan Jibril untuk memotong kepala patung sehingga menjadi seperti keadaan pohon, bahwa yang mu'tabar (diakui) di sini bukan karena tidak berpengaruhnya sesuatu anggota yang kurang itu terhadap hidupnya patung tersebut, atau patung itu pasti akan mati jika tanpa anggota tersebut. Namun yang jelas, patung tersebut harus dicacat supaya tidak terjadi suatu kemungkinan untuk diagungkannya setelah anggotanya tidak ada.

Cuma suatu hal yang tidak diragukan lagi, jika direnungkan dan kita insafi, bahwa patung separuh badan yang dibangun di kota guna mengabadikan para raja dan orang-orang besar, haramnya lebih tegas daripada patung kecil satu badan penuh yang hanya sekedar untuk hiasan rumah.


  Sumber dari sini





 Sumber dr Google : Justin ngan patung lilin dia. Nampak sebijikkan. 


Maap la sbb guna pic ni. Huhu

Hukum Memiliki Patung atau Teddy Bear



Salam. Sebelum ni saya ada post entri tentang Hukum menyimpan patung dirumah dan ini merupakan lanjutan bagi mendapatkan kepastian tu. Actually, saya memang rasa tak puas hati selagi tak dapat jawapan yang betul-betul memuaskan hati dan betul-betul kuat. Sebab banyak penjelasan di internet yang saya tak berapa faham maksudnya yang sebenar. Kali ni saya terjumpa sesuatu yang boleh membantu saya mendapatkan jawapan yang lagi jelas. Harap saya tak silap. Kalau saya silap bolehla tegur saya secara baik.

Para ulama berbeza pandangan mengenai perkara ini. Ini kerana, merujuk sejarah, pada zaman Nabi Sulaiman a.s. dibenarkan kegiatan membuat dan memiliki patung, tetapi pada zaman nabi-nabi lain aitu sebelum dan selepas beliau, patung adalah diharamkan termasuk pada zaman Nabi Nuh a.s. dan pada zaman Nabi Ibrahim a.s. Manakala pada zaman Nabi Muhammad s.a.w. pula diharamkan patung untuk disembah dan dipuja, tetapi diharuskan patung mainan untuk anak-anak.

Para ulama terkenal masakini yang berbeza pandangan mengenai patung ialah Dr. Yusuf al-Qaradawi, Syeikh Gadul Haq Ali Gadul Haq, Syeikh Atia Saqr dan Dr. Mohammad Amarah.

Mengenai hukum orang Islam memiliki patung, al-Qaradawi di dalam “Fatawa Muasirah” berkata Islam mengharamkannya, sama ada patung manusia mahupun patung binatang. Pengharaman itu menjadi lebih kuat jika patung itu merupakan makhluk yang disanjung tinggi seperti raja, nabi sepertimana Nabi Isa a.s. di kalangan orang Kristian dan lembu di kalangan orang Hindu. Menurut beliau, ada satu jenis patung saja yang diharuskan oleh Islam untuk dimiliki, iaitu patung mainan anak-anak. Ini berdasarkan kepada hadis Rasulullah s.a.w. yang menceritakan bahawa isteri baginda yang masih kecil, Aisyah cenderung dan suka bermain patung.
Syeikh Gadul Haq, Bekas Syeikh al-Azhar, mempunyai pendapat yang sama dengan al-Qaradawi. Beliau membenarkan patung untuk pendidikan seperti patung mainan anak-anak dan berpendapat harus hukumnya bagi patung separuh tubuh dan mudah rosak yang diperbuatkan daripada tepung (atau bahan-bahan lembut spt plastesin dll).

Syeikh Atia Saqr dalam fatwanya, membolehkan patung mainan anak-anak, patung cepat rosak dan patung separuh badan. Selain itu patung yang tiada salah satu anggota badan yang penting seperti kepala juga boleh dimiliki orang Islam, tetapi hukumnya adalah makruh. (Kepala merupakan anggota penting bagi tubuh. Manakala kaki tidak penting, kerana manusia masih mampu hidup tanpanya).
Menurut Syeikh Saqr, Imam Malik menganggap harus hukumnya memiliki patung yang lengkap seperti seorang manusia, tetapi dengan syarat ia berlubang walaupun sangat kecil. (untuk mencacatkannya). Manakala Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad mengenakan syarat patung lengkap itu mesti mempunyai lubang yang besar. Ini termasuk juga patung mannequin yang digunakan untuk mempamerkan pakaian di butik-butik dan gedung-gedung pakaian.

Dr. Amarah dalam fatwanya berkata, hukum syarak tentang hak pemilikan patung adalah merujuk kepada al-Quran. Pertama, patung dianggap termasuk daripada nikmat Allah yang dikurniakan kepada Nabi Sulaiman. Patung pada zaman Nabi Sulaiman tidak disembah dan tidak dianggap berbahaya terhadap akidah tauhid.
Kedua, patung yang dianggap berhala yang disembah pada zaman Nabi Ibrahim a.s. dan zaman nabi-nabi lain. Pada zaman-zaman ini patung dimusnahkan seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan pada zaman Nabi Muhammad s.a.w. Oleh itu kata Dr. Amarah, hukum mengenai patung adalah dilihat pada matlamat penggunaannya. Apakah ia merupakan hiasan yang termasuk daripada nikmat Allah ataupun ia merupakan sembahan seperti berhala.

Menurut Dr. Amarah, seorang ulama dari Mazhab Maliki, Imam Ahmad Idris al-Qarafi, merupakan seorang yang pandai mengukir patung untuk kegunaan raja. Beliau mencipta patung yang menggunakan teknik pembakaran lilin bertujuan untuk mengejutkan raja ketika azan subuh.

Secara dasarnya, ulama bersepakat bahawa patung dianggap harus jika ada faedah seperti untuk mainan anak-anak dan dan dianggap haram jika digunakan untuk penyembahan.


Sumber dari sini


Ibnu Arabi juga menyebut bahawa telah ijmak ulamak mengharamkan gambar patung-patung, tetapi jumhur ulamak mengharuskan (membolehkan) patung-patung mainan kanak-kanak.
 Sumber dari sini


Mengukir/membuat patung-patung manusia dan binatang adalah haram kecuali untuk permainan kanak-kanak atau bagi tujuan pendidikan , pembelajaran atau pengetahuan. Pekerjaan membuat patung mainan dan pendidikan adalah harus pada syarak.
 Sumber dari sini


Pembuatan dan pemilikan patung haiwan atau manusia yang sempurna tetapi berasaskan kemaslahatan yang mu’tabar di sisi Syara’ maka hukumnya adalah dibolehkan seperti pembuatan dan pemilikan patung untuk tujuan pendidikan seperti anatomi badan manusia yang lengkap untuk pengajian biologi atau permainan kanak-kanak dan sebagainya
Sumber dari sini

Kalau patung itu tidak dimaksudkan untuk diagung-agungkan dan tidak berlebih-lebihan serta tidak ada suatu unsur larangan di atas, maka dalam hal ini Islam tidak akan bersempit dada dan tidak menganggap hal tersebut suatu dosa. Misalnya permainan anak-anak berupa pengantin-pengantinan, kucing-kucingan, dan binatang-binatang lainnya. Patung-patung ini semua hanya sekedar pelukisan untuk permainan dan menghibur anak-anak.

Oleh karena itu kata Aisyah:
“Aku biasa bermain-main dengan anak-anakan perempuan (boneka perempuan) di sisi Rasulullah s.a.w. dan kawan-kawanku datang kepadaku, kemudian mereka menyembunyikan boneka-boneka tersebut karena takut kepada Rasulullah s.a.w., tetapi Rasulullah s.a.w. malah senang dengan kedatangan kawan-kawanku itu, kemudian mereka bermain-main bersama aku.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dan dalam salah satu riwayat diterangkan:
“Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pada suatu hari bertanya kepada Aisyah: Apa ini? Jawab Aisyah: Ini anak-anak perempuanku (boneka perempuanku); kemudian Rasulullah bertanya lagi: Apa yang di tengahnya itu? Jawab Aisyah: Kuda. Rasulullah bertanya lagi: Apa yang di atasnya itu? Jawab Aisyah: Itu dua sayapnya. Kata Rasulullah: Apa ada kuda yang bersayap? Jawab Aisyah: Belumkah engkau mendengar, bahwa Sulaiman bin Daud a.s. mempunyai kuda yang mempunyai beberapa sayap? Kemudian Rasulullah tertawa sehingga nampak gigi gerahamnya.” (Riwayat Abu Daud)
 Sumber dari sini


Jadi kesimpulannya disini , patung mainan untuk kanak-kanak dan untuk tujuan pembelajaran dan juga patung yang tidak cukup sifatnya adalah tidak menyalahi hukum. Dan haram jika patung tersebut dijadikan perhiasan dan untuk tujuan di agungkan atau dimuliakan serta jika patung tersebut benar-benar menyerupai makhluk bernyawa sebab nanti diakhirat kelak kita kena hidupkan patung tu sedangkan kita takde kuasa pun nak wat macam tu. Hanya Allah S.W.T yang berkuasa dan maha pencipta. Eee...seram jugak kan... Tapi seelok-eloknya kita hindarkan la dari membeli patung ni kan.  
 Baca lanjut tentang HIKMAH DIHARAMKAN PATUNG
P/s: Huhu... tapi saya sendiri suka main patung walaupun da besar. Agak-agak dolls yang sy beli tu tergolong dalam cukup sifat ke? ade ke manusia yg kepalanye besar dri badan?Huhu...saya simpan doll tu dekat dalam almari kecik.. takpe ke?Lepas ni dah tak boleh letak kat meja dah..kena tanggalkan kaki dia letak dalam almari kecik.

HUKUM MEMAKAI HARUMAN /WANGI-WANGIAN ( KHAS UTK GOLONGAN WANITA)



بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Entry ni saya ambil untuk renungan kita bersama supaya kita lebih menjaga diri kita.
 
Apabila seorang wanita keluar dari rumahnya wajiblah dia menjaga dirinya daripada memperlihatkan kecantikannya kepada lelaki ajnabi.  Ini perintah Allah:


وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَـهِلِيَّةِ الاٍّولَى

“Dan janganlah kamu tabarruj (mendedahkan perhiasan diri)seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliah zaman dahulu”  [An-Noor (33) : 33]


Larangan memperlihatkan perhiasan membawa maksud kepada tiga bahagi : 
  1. Perhiasan tubuh badan yang asal iaitu kecantikan yang asli.
  2. Perhiasan tambahan seperti hiasan pada pakaian,  anting2, rantai leher,  solekan pada pipi, gincu,    wangi2an  dsb 
  3. Pergerakan tubuh yang lemah gemalai dan menggoda.

Dari Tafsir Ibnu Kathir :

“Dan jangan bertabarruj seperti tabarruj zaman jahilyyah”    Mujahid berkata : “Wanita gemar berjalan dihadapan lelaki dan ini dinamakan tabarruj seperi zaman jahiliyyah”

Qatadah mengatakan :  Apabila mereka keluar dari rumah,  mereka berjalan tanpa perasaan malu dan didalam keadaan menggoda orang lain. Dan Allah Ta’ala melarang demikian.”

Muqatil bin Hayyan menyebut:
Tabarruj ialah apabila seorang wanita memakai “Khimar”  menutup kepalanya tetapi dia tidak menutupnya dengan sempurna, ini menyebabkan rantainya, subang dan leher – semua ini boleh dilihat oleh orang.”
(tamat petikan tafsir)

Semua jenis perhiasan samada kecantikan asli pada tubuh atau kecantikan disebabkan perhiasan tambahan seperti alat solek, haruman dan wangian , maka semua ini di tegah diperlihatkan kepada bukan muhrimnya.


Dari Abu Musa al Asy’ari رضي الله عه berkata, Rasulullah    صلى الله عليه وسلم    bersabda:

“Tiap-tiap wanita yang menggunakan harum-haruman kemudian keluar melewati sekelompok kaum supaya dicium baunya oleh kaum itu, maka dia adalah seorang wanita penzina (pelacur) dan setiap mata yang memandangnya juga telah (ikut) melakukan zina (berzina).” (An-Nasai)

Hadits yang lain, diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عه  Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda:

“Siapa saja wanita yang terkena asap wangi-wangian, maka jangan ikut bersama kami untuk melakukan shalat Isya’ pada akhir malam.” (Muslim)


Dari Abu Hurairah, bahwa ia suatu saat bertemu dengan seorang wanita yang tercium olehnya bau wangi-wangian, dan di bagian belakang pakaiannya terdapat kain yang menyapu tanah. Abu Hurairah berkata, “Wahai amah (hamba) al-Jabbar, apakah engkau datang dari masjid?” Wanita itu menjawab, “Ya”. Abu Hurairah berkata lagi, “Apakah untuk-Nya engkau memakai wangi-wangian?” Wanita itu menjawab, “Ya”. Kemudian Abu Hurairah menjelaskan, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah  صلى الله عليه وسلم bersabda:

“Tidak akan diterima shalat seorang wanita yang memakai wangi-wangian dalam masjid ini, sehingga ia kembali dan mandi seperti ia mandi janabah (junub).” (Abu Dawud)


Demikian beratnya perbuatan dan dosa wanita yang berhias memakain wangian2 ketika dia keluar dari rumahnya.  Mengapa Nabi  صلى الله عليه وسلم begitu tegas memberi amaran terhadap perkara ini sehingga dikaitkan sebagai wanita pezina dan pelacur?    Ini kerana perbuatan memakai wangian, solekan dsb ketika keluar rumahnya adalah perbuatan pezina2 dan pelacur pada zaman jahilyyah. Mereka berbuat bagitu untuk menarik perhatian lelaki.   Maka wanita2 yang meniru perbuatan mereka adalah tergolong kepada wanita2 pezina dan pelacur. 


Tidak dinafikan wangi2an dan haruman yang dipakai oleh wanita memberikan kesan yang sangat kuat pada hati lelaki yang mencium baunya sehingga mendorong kepada perbuatan zina, sekurang2 nya dia telah berbuat zina mata dan zina hati. 


Wallahu A'lam
 

Sunday, December 11, 2011

Hukum menyimpan patung di rumah

Salam semua,
Disini saya nak berkongsi la tentang perkara yang sy sendiri pun konfius. Tapi setelah baca tentang pendapat ulama tentang persoalan boleh tak kita bermain patung atau simpan patung didalam rumah. Ada sesetengah mengatakan kita boleh bermain patung tapi jangan sampai mengagungkan ataupun menjadikan ianya sebagai perhiasan. Artikal dibawah ni sy copy dr blog  http://biroagamakubi.blogspot.com/ .

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaanmu itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tidaklah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah." (Surah Al-Hajj, ayat 73)

Dinyatakan disitu pada asasnya haram kita menyimpan patung atau boneka utk disucikan dan dimuliakan. Manakala patung atau boneka yang diharuskan ialah patung mainan kanak-kanak kerana ia bukan patung untuk dimuliakan, diagungkan dan bukan untuk tujuan bermegah-megah, kerana Aisyah ra, ummul mukminin sendiri pernah bermain dengan patung semasa masih kecil.

Kalau patung itu tidak dimaksudkan untuk diagung-agungkan dan tidak berlebih-lebihan serta tidak ada suatu unsur larangan di atas, maka dalam hal ini Islam tidak akan bersempit dada dan tidak menganggap hal tersebut suatu dosa. 



Dari Aisyah ra,

أنها كانت تلعب بالبنات عند رسول الله صلى الله عليه وسلم

Terjemahannya: "Aku biasa bermain boneka di sisi RasuluLlah SAW” (HR Bukhari-Muslim, sahih Muslim, 2440)

Namun, syarat-syaratnya juga ada, iaitu syarat patung yg dibolehkan ialah patung yang tidak cukup sifat. 



Terjemahannya: "(Jibril AS berkata) Perintahkan agar kepala patung itu dipotong. Maka dipotonglah patung itu sehingga menjadi seperti pokok." HR Abu Daud, anNasa’iy, Termidzi dan Ibn Hibban, disahihkan oleh al- Albani dalam Ghayatul Maram (131)

Islam tidak meredhai umatnya menyimpan patung di dalam rumah kerana ia mirip kepada sembahan-sembahan yang biasa dipertuhankan oleh orang-orang kafir. Sekalipun seseorang itu tidak menganggap patung tersebut sebagai tuhan dan tidak menyembahnya, ia tetap ditegah kerana Islam bukan sekadar melarang seseorang dari melakukan syirik tetapi ia juga menghalang dan menutup segala jalan-jalan yang mengarah, menyerupai dan memiliki unsur syirik.

Lebih dari itu malaikat juga enggan memasuki rumah yang mempunyai patung di dalamnya dan ketiadaan para malaikat ini akan menjauhkan rahmat dan keredhaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala daripada penghuni rumah tersebut.

Akan tetapi Islam sedia memberi kelonggaran dan kemudahan hukum kepada anak-anak kecil yang memiliki patung sebagai alat mainan kerana bagi anak-anak, patung-patung tersebut tidaklah memiliki sebarang nilai sembahan kecuali sekadar alat mainan sahaja.

Namun begitu di zaman kini agak sukar dibezakan antara patung (al-Tamathil) yang dibenarkan atau dilarang kerana ia kini diperbuat dari pelbagai bahan-bahan yang berbeza dengan zaman Nabi s.a.w. Ada patung dari aloi logam, bahan gentian plastik, kaca dan sebagainya.

Maka langkah terbaik dan selamat ialah tidak menyimpan patung-patung tersebut sama ada di dalam rumah, pejabat, kereta atau di mana-mana sekalipun kerana ditakuti ia menjebakkan kita di dalam perbuatan syirik tanpa sedar. Sumber : Jabatan Kemajuan Islam Malaysia

  
Jelaslah kat sini bahawa patung untuk perhiasan tu haram, tapi untuk permainan dibolehkan. Tapi untuk budak kecik sahaje ke? .Sebenarnya sy pun takut jugak jika kearah syirik. Sebaik-baiknya kita hindar perkara sebegini. Pasni kenalah berhati2...jangan sampai doll2 atau teddy bear yg ade menjadi perhiasan. Memang susah sebab benda tu dah jadi rutin kita, yang kita minatkan. Tido peluk teddy bear..jadikan mcm bantal. Dah besar2 pun still nak main patung, tukar2kan baju, amik gambar. Yang lelaki pulak main gundam, transformer.


Okeylah yang selebihnya kalau nak tahu lebih jelas. Bacelah dekat blog yg sy link kan tu. Kat situ ada komen2 lain tentang isu ini. Kat bwh ni ade video ustaz azhar idrus tentang isu patung sbg hiasan.



Ini pulak tentang pendapat ulama : http://al-ahkam.net/